Simple Story

Ngomentarin anak orang? Noway!


Cerita ini kualami sendiri dan mungkin pernah dialami oleh para ibu lainnya. Komentar-komentar pedas orang lain yang ditujukan untuk anak kita.

Onyil, anakku, umurnya hampir 4 tahun. Berat badannya 12 kilo. Kecil? Kurus? Memang. Tapi bukan hak siapa pun yang tak paham latar belakang dan kebiasaan anakku untuk bisa berkomentar seenaknya.

Beberapa hari lalu, seorang miss di sekolahnya tiba-fiba berkata, “Onyil tu bener cacingan ya ma?”

“Whaatt??!!” Batinku saat itu. Masih kutahan emosi dan kubertanya balik, “he? Dari mana miss infonya?” Lalu ditimpali

“Oh enggak, soalnya kok badannya kecil”

Dari situ ku merasa sangat marah. Kuhanya jelaskan singkat kalau dokter Onyil yang paling paham tentang itu, lalu kutinggal pergi.

Aku paham betul, mungkin miss ini ga paham kondisi Onyil dan cuma ingin tahu. Tapi sungguh, sebagai seorang yang bekerja di educative daycare kok ya ga pas gitu pemilihan kata dan cara bertanyanya.

Lain cerita jika yang disampaikan adalah rasa ingin tahunya, seperti “ma, boleh tau ga kondisi Onyil kok badannya kecil ya walau makan banyak? Apa ada kondisi tertentu?”

Kalau nanyanya gtu enak kan yaaaa… lha ini..langsung ngejudge anakku cacingan. Hei! Anak kurua dan kecil itu belum tentu cacingan ya, banyak faktornya. Anak makan banyak badan kecil juga belum tentu di perutnya ada cacingnya.

Genetis misalnya, aku dan bapaknya Onyil itu bisa terhitung kurus/kecil untuk tinggi badan kami.

Lalu masih ada riwayat sakit. Si miss juga ga tau kalau Onyil itu hypertension survivor, di rawat di rumah sakit 1 minggu dan sisanya harus kontrol tiap 2 minggu sampai sebulan sekali selama 6 bulan dengan minum obat dari 3x sehari sampai turun jadi 1x sehari. Bahkan sampai sekarang walau sudah lepas obat dia masih harus kontrol.

Pertanyaan si miss ini sungguh bikin sedih, seolah ku tak memperhatikan anakku. Meninggalkan dia di daycare 7 jam sehari bukan berarti aku ga perhatian lho sama kesejahteraan dan kesehatan dia. Bekal Onyil ke sekolah itu paling lengkap di antara teman-temannya karena dia selalu bawa tambahan buah, selain susu dan snack. Obat cacing dan imunisasi dan vitamin juga selalu diberikan sesuai waktunya.

Ku yakin banyak ibu di luar sana yang pernah mengalami hal serupa, mungkin bukan soal kurus, tapi soal yang lain seperti perkembangan kognitif, kelancaran bicara, keterlambatan jalan, dan lain-lain.

Intinya ya… jangan sembarangan kalau bicara dan berkomentar tentang anak orang apalagi ga kenal banget. Kalau penasatan tentu boleh, tapi dijaga kata-katanya, hati-hati pilihan katanya. Hati seorang ibu itu rapuh jika terkait hl seputar anaknya.

-tha-/simbok

2 thoughts on “Ngomentarin anak orang? Noway!”

  1. Dulu ada ortu lain di sekolah Hayya yg komen serupa soal segera masuk TK, kenal juga kagak cm lg sama2 nunggu, pengen tak bengokki: “mind your business!” 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s