Review of here and there

[Review] Rivera Gotta be Matte Lip cream

Hai gaes, aku dapet kesempatan istimewa niy buat coba produk lumayan baru dari Rivera Cosmetics. Namanya Gotta be Matte lip cream. Ada 2 warna yang kucoba, yang truly red alias merah benderang sama agak ngepink (shade retro mauve).

Foto di bawah ini yang retro mauve ya gaes..

Nah, ini pendapat pribadiku ya.. (ingat pendapat boleh beda) šŸ˜

1. Kemasan

Elegan, bahkan bagus menurutku kalau dibandingkam merek titik-titik yang organik (tebak-tebak tidak berhadiah). Jadi bukan kemasan yang ‘cuma’ lip cream gitu lho gaes.

2. Tekstur

Relatif lebih kental dari lip cream yang biasa kupakai. Risikonya apa? Ya bisa jadi terlalu tebal, trus (ndemblok- kata orang Jawa). Mendingan nih kalau make ini, pakai aja di beberapa titik terus ratakan, pakai cotton bud.. jari ya boleh wis sak karep.. pokoknya rata.

3. Moist?

Surprisingly, tidak sekering dugaanku sebelumnya. Sempet menduga ini akan kering atau bikin bibir kering dengan sangat cepat. Ternyata enggak lho.. misal niy, kupakai pagi jam 9, nanti baru kerasa kering di atas jam 13. Lumayan kan..

4. Longlast?

Yeps. Ini longlast, jam kerja touch up kalau perlu aja (aku sih males.. emang gitu akutu..)

5. Smudge free?

Nope. Sayangnya tidaaaaa… jadi hati-hati kalau mau kecup kecup yak. Nempel gaes.. ingat!

Gitu deh pendapatku pakai Rivera Gotta be matte lip cream ini. Untuk 2 warna yang kucoba, ternyata warna yang merah nyala itu lebih cepet nempel bibir daripada yang retro mauve. Entah kenapaaaa…

Untuk hasil yang merah nyala bisa cek di sini ya..gotta be matte result

Sekalian ceki-ceki story Instagram-ku yang mengulas produk make up lainnya.

Gitu yes.. makasiy sudah mampir..

-Tha-

Advertisements
Simple Story

[Tips]Boneka Capit, pasti sukses

Hi gaes, kali ini aku mau bagi-bagi tips biar bisa dapetin boneka di arcades, semacama Tim*z*n*, K*dsf*n, dan sejenisnya. Kenapa aku bikin tips ini? Mungkin karen aku ahlinya cuma ini gaes. Maapin ya… keahlianku emang receh banget gini.

So, let’s get started.

1. Boneka kecil apa gede?

Itu terserah kamu gaes selera. Aku biasanya pemanasan dulu ke mesin-mesin dengan boneka kecil. Kenapa? Ya karena lebih murah lah gaes. Masak baru pemanasan uda ngabisin duit? Jangan donk.

2. Boneka yang tersusun rapi apa yang uda berantakan?

Nah, ini yang pasti! Pilih yang udah berantakan. Semakin rapi bonekanya, jarak antarboneka makin rapat apalagi untuk mesin dengan boneka kecil-kecil. Semakin rapat jaraknya, semakin berisiko si capit untuk ga bisa turun secara penuh. Risikonya capit malah cuma ((mencong)) dan meleset. Mesin dengan boneka besar jarak antarbonekanya lumayan jauh. Jadi, boneka yang masih rapi bisa juga dicapit. Tapi… tengok tips berikutnya.

3. Boneka yang masih tegak atau yang sudah ((ndlosor))?

Pilih yang sudah ndlosor. Posisi tangan dan kaki boneka yang terekspos jelas memudahkanmu membuat perhitungan titik mana yang diincar.

4. Incar kepala atau badan?

Badan. Selalu incar badan atau bahkan pantat boneka. Incar kepala itu 50% capitnya ga akan kuat ketika ngangkat, akibatnya boneka yang tercapit jatuh pas capit terhentak. Tipsku: titik tengah capit arahkan ke titik tengah perut atau punggung boneka.

5. Jangan senang dulu

Boneka yang sudah tercapit dan terangkat selalu bisa jatuh pas capit terhentak (otomatis mesin ya gaes). Jadi kontrol emosimu gaes.

6. Lihat performa capit

Ada mesin-mesin yang asli udah elek banget capitnya. Coba amati orang-orang yang makai mesin itu, sukses tidak mereka, minimal sampai mengangkat boneka. Jika iya, maka mesin itu capitnya masih bisa diandalkan. Jika tidak, a k a luput terus, sudah tinggalkan saja mesin itu dan cari mesin lain. Ingat amati orang lain dulu.

7. Tahan ambisimu!

Berapa kali sih harus nyoba sampai dapet? Geregetan kalau ga dapet…. wajar sih ngrasa gemeeessss gitu berkali-kali coba kok ((luput)). Nah, kalau aku 3x gagal pada 1 mesin aku berhenti, bisa jadi semua posisi boneka tidak menguntungkan (kalau capit dipastikan baik-baik saja ya). Tapi, jika memang ada boneka yang posenya uda capit-able nih, lanjut aja. Aku sih ga pernah lebih dari 7x pasti sudah dapat.

Rekorku, boneka paling murah Rp 4900 (1x capit) dan paling mahal Rp 91000 (7x capit). 7x itu sengaja main los ya gaes karena bonekanya anjing guedheee yang kuincaaaarrr walau sekali capit Rp 12.900…wkww bangkrut gaes. But it’s paid off!!

Silakan coba dipraktekin.. wish you all luck! Kabari ya kalau sukses dengan tips ini.

-Tha-

Simple Story

How Ambitious Are You, Parents?

Dear parents, I wrote this because I saw with my own eyes the ambition of a mother.

I accompanied my girl in a coloring contest. My girl is only 3.5 yo. A boy sat next to her was just as old as she is. I brought my daughter only a set of crayons, that’s it. For me, I just wanted to show her that it’s just a fun event. Meanwhile, the mother of the boy prepared 3 sets of coloring tools. Oh wow, he must love coloring, I thought.

The contest begun. The children had 90 minutes to finish it. I let my girl chose every colors she wanted, even if it meant she choose green for face. šŸ¤£ but hey, it should be a fun moment, right?

Meanwhile, the mother of the boy started to give orders to her kid. How ground should look like, what color he should use. She raised her voice when the boy didn’t do it. I was shock.

This story is not about the mother of the boy, I won’t judge her. But this is about me and my view. I raise my kid to know competition. I believe it is important because this world goes crazy on competition nowadays.

But, I want her to understand that in competition she doesn’t have to always be the winner, I want her to enjoy the competition so that she can do her best. I am a mother who believes that introducing competition in a too hard way may cause trauma for children. They might wanna stop and hate the competition at one point.

Yes, I have seen many parents want their children to be a winner in a contest until they get emotional to the children. Well, I agree 100 percently that children should be taught about winning. But they also have to learn how it feels when they loose.

Thus, how about we, as parents let our children explore their own terms about competition. What winning and loosing mean to them. Let them enjoy the process.. we don’t need to be ambitious collecting trophies which aren’t ours.

So..readers, this is only my thought. You don’t have to agree with it.. šŸ˜ŠšŸ˜Š

-Tha-

.A mother.

Simple Story

Ngomentarin anak orang? Noway!

Cerita ini kualami sendiri dan mungkin pernah dialami oleh para ibu lainnya. Komentar-komentar pedas orang lain yang ditujukan untuk anak kita.

Onyil, anakku, umurnya hampir 4 tahun. Berat badannya 12 kilo. Kecil? Kurus? Memang. Tapi bukan hak siapa pun yang tak paham latar belakang dan kebiasaan anakku untuk bisa berkomentar seenaknya.

Beberapa hari lalu, seorang miss di sekolahnya tiba-fiba berkata, “Onyil tu bener cacingan ya ma?”

“Whaatt??!!” Batinku saat itu. Masih kutahan emosi dan kubertanya balik, “he? Dari mana miss infonya?” Lalu ditimpali

“Oh enggak, soalnya kok badannya kecil”

Dari situ ku merasa sangat marah. Kuhanya jelaskan singkat kalau dokter Onyil yang paling paham tentang itu, lalu kutinggal pergi.

Aku paham betul, mungkin miss ini ga paham kondisi Onyil dan cuma ingin tahu. Tapi sungguh, sebagai seorang yang bekerja di educative daycare kok ya ga pas gitu pemilihan kata dan cara bertanyanya.

Lain cerita jika yang disampaikan adalah rasa ingin tahunya, seperti “ma, boleh tau ga kondisi Onyil kok badannya kecil ya walau makan banyak? Apa ada kondisi tertentu?”

Kalau nanyanya gtu enak kan yaaaa… lha ini..langsung ngejudge anakku cacingan. Hei! Anak kurua dan kecil itu belum tentu cacingan ya, banyak faktornya. Anak makan banyak badan kecil juga belum tentu di perutnya ada cacingnya.

Genetis misalnya, aku dan bapaknya Onyil itu bisa terhitung kurus/kecil untuk tinggi badan kami.

Lalu masih ada riwayat sakit. Si miss juga ga tau kalau Onyil itu hypertension survivor, di rawat di rumah sakit 1 minggu dan sisanya harus kontrol tiap 2 minggu sampai sebulan sekali selama 6 bulan dengan minum obat dari 3x sehari sampai turun jadi 1x sehari. Bahkan sampai sekarang walau sudah lepas obat dia masih harus kontrol.

Pertanyaan si miss ini sungguh bikin sedih, seolah ku tak memperhatikan anakku. Meninggalkan dia di daycare 7 jam sehari bukan berarti aku ga perhatian lho sama kesejahteraan dan kesehatan dia. Bekal Onyil ke sekolah itu paling lengkap di antara teman-temannya karena dia selalu bawa tambahan buah, selain susu dan snack. Obat cacing dan imunisasi dan vitamin juga selalu diberikan sesuai waktunya.

Ku yakin banyak ibu di luar sana yang pernah mengalami hal serupa, mungkin bukan soal kurus, tapi soal yang lain seperti perkembangan kognitif, kelancaran bicara, keterlambatan jalan, dan lain-lain.

Intinya ya… jangan sembarangan kalau bicara dan berkomentar tentang anak orang apalagi ga kenal banget. Kalau penasatan tentu boleh, tapi dijaga kata-katanya, hati-hati pilihan katanya. Hati seorang ibu itu rapuh jika terkait hl seputar anaknya.

-tha-/simbok

Simple Story

Happiness on your own terms

A few days ago I wrote on my WhatsApp status, “I wanna be happy on my own terms, not yours”. For some, it sounds selfish. Isn’t it? But I wrote that by reflecting the reality around us.

People are constantly receiving demands, requirements, terms and conditions, in their daily lives from their work, their school, their teachers, their friends, even by their own families.

Those requirements are often related to our happiness, by their own terms. For example, you are single and haven’t got married by 30. Your family starts asking, “why haven’t you got married?”, “What kind of guy/girl are you searching for?”. Sometimes they even start judging, “You have way too high standard”, “Don’t be too hard to people who wants to get to know you”, and many other sentences you can relate to. As if when you haven’t got married in the age of 30, you won’t be happy and you ARE not happy.

But hey, we have our own terms to be happy. We can be happy on our own terms without following the standards of others’. I’m not saying that their terms are bad, no. Their terms, I’m sure, are based on their concerns because they care about us.

But again, this is your life, not theirs. We are the one who understands all the circumstances that happen in our lives. We are the one who should decide what we’re going to do and bear with the consequences. It doesn’t mean that we will just turn down all what they say, but we need to understand ourselves, our limitations, our strength, our goals so that we can also create our own happiness.

It is not about being selfish, it is about self understanding and be happy on our terms. You probably will be misunderstood, or misjudged but… you all already know the risks, right?

-Tha-

Simple Story

Kenapa rambutnya dicat terus?

Pertanyaan di judul tulisan ini sudah kaya makanan sehari-hari. Pertanyaan ini pun tak berhenti di situ, lanjutannya adalah.. catnya merk apa? Di salon apa cat sendiri? Ga takut rusak? Di bleaching ga? Perwatan rambutnya apa? Terus aja ampe taun barunya pindah ke bulan Maret.

Nah, kuceritakan saja di sini ya.. awal mula kenapa sampai sekarang rambutku selalu dicat. Berawal dari ketika kumenyadari warna rambut aseliku. Bukan hitam. Rambutku itu kecoklatan dari sononya. Enggak hitam kaya iklan-iklan shampoo segala merek yang bertebaran di media, yang katanya rambut aseli orang Indonesia. Genks… guweh aseli Indonesia, tulen, 100% wong Jowo.

Waktu kecil, rambutku keliatan kusem banget kalau dibandingkan teman yang lain karena emang rambut sampingku itu cokelat apalagi kalau di bawah sinar matahari. Makin keliatan cokelat.

Tapi berhubung aturan sekolah, sampai SMA ya masih bertahan dengan warna aseli rambutku. Sampai satu saat di SMA, out of nowhere, aku dipanggil donk sama guru BP, di sidang karena rambutku cokelat. Aku sudah membela diriku, ku bilang dengan jujur kalau ini warna rambut aseli. Tapi malah makin dimarahi. Lalu, ak dihukum donk, harus MENGHITAMKAN rambut dan lapor ke guru BP besok paginya sebelum jam pelajaran dimulai. Bayangin, rambut aseli malah disuruh ngecat item. DUH!

Apa daya, kucuma murid yang sudah dimarahi habis. Nurutlah.. cat hitam itu adalah cat rambut pertamaku. Setelah lulus SMA, sepertinya ku cukup trauma dengan urusan warna rambut. Atau mungkin, ku sangat jengkel dengan realita bahwa rambutku yang warnanya ga sesuai iklan shampoo itu dianggap ga aseli.

Semenjak itu, aku seperti ‘tidak suka’ dengan warna aseli rambutku dan malah merasa ga cocok sendiri. Ya, silakan men-judge diriku tidak mensyukuri tubuhku. Ga papa. Ku sadar kalo ga ku cat pun, orang tetep tanya kok rambutku dicat apa? Atau di highlight ya rambutnya? Semata-mata karena warna rambutku tidak hitam seperti iklan shampoo.

So, sejak kuliah sampai sekarang, berarti sudah lebih dari 15 tahun aku selalu cat rambut. Pilihanku biasanya cokelat, untuk menguatkan warna rambut aseliku. Biar kalau ditanya lagi, cat merek apa atau warna apa bisa tak jawab jelas.

Tapi, makin ke sini aku lebih suka warna merah. Ku merasa lebih cocok dan ngasih semangat aja tiap liat rambut. Wkwkw… atau semacam liat vokalisnya Paramore gitu (pede). Dengan warna merah ini aku juga gampang jawab semua pertanyaan dari orang sekitar, ga ribet, ga usah jelasin warna aseli rambut de el el.

Aku tetep cinta rambutku kok walau kucat terus. Aku hanya ga cocok dengan warna aselinya yang membuatku sering berada di posisi ditanyain orang mulu. Lelah genks..

Rambutku tetep kurawat sendiri dengan vitamin dan shampoo yang cocok. Enggak mahal juga karena ku hampir ga pernah cat rambut di salon. Selama 15 tahun ngecat rambut, cuma sekitar 3 kali kulakukan di salon. Sisanya.. cat sendiri lah… gampang kok.. asal ga highlight ya.. susah kalo itu!

Gitu ya gaes ceritanya soal warna rambutku. Kalau ketemu aku di jalan, ga usah tanya lagi kenapa kok rambutku dicat. Cukup tanya merek yang kupakai sekarang apa. Gitu yak..

See you in my next post!

.Tha.

Simple Story

Complaint handling

Consumers are the king, by that what I mean is that we as a consumer should be given the best service and the best quality of products.

When we do not get it, than it’s our rights to complain. I do it several times for the services and products I used and I bought. However not all sellers or service givers take the complaints seriously. If I complain directly face to face, some of them just simply give an OK and thank you. If I complain by leaving comment on their website or Google review, some of them even ignore it.

But recently, I complained to a plushies store. I am actually a regular customer. One day I bought a plushie with horn on its head and the material (pipe cleaner for craft) popped out and it was actually sharp. The one who found it out is my lil daughter.

I sent my complaint to the store through LINE with complete pictures of the plushie and the pipe cleaner. As usual I expect nothing in return. Just say clearly how dangerous it could be if a younger child play with it.

They said thank you for the input and apologized for the inconvenience. Ok. Case closed I thought. Out of nowhere, a few days later, they asked for my address to send a gift. When the gift arrived, I was super excited. I know for sure they’d send me a plushie but I just can’t help the excitement. A (ca.) 40cm-tall yellow dino plushie is in the gift bag.

Along with the gift card. As a costumer I am so happy because I feel heard. As for the business, it’s a winning because they successfully handle the complaint. Both parties are happy.

Me, the happy costumer,

.Tha.