Simple Story

Sejuta peran ibu

Menjadi ibu itu ternyata bukan cuna perkara hamil dan berani sakit saat melahirkan (both vaginal maupun C-section ya).

Menjadi ibu itu juga perkara kesiapan jadi manusia serba bisa karena makhluk yang nantinya kita sebut anak itu membutuhkan kita sebagai tempat bersandar sebagai role model, sebagai kamus atau Google, sebagai teman main, sebagai koki, sebagai sopir, dst dst dst ga ada habisnya.

Tulisan ini kutulis dari pengalaman lucu, wagu, ra mutu, nyebahi dan mengharukan bersama Konyil, anak semata wayangku yang sekarang umurnya baru 4 tahun.

Konyil lahir lewat C-section di HPL-nya tepat karena sudah bukaan 2 beberapa hari dan ga ada kontraksi tambahan, ternyata kepala dia kejedhug tulang panggul karena posisi miring dan ketuban habis. Kisah ini besok kutulis di lain topik aja.

Aku full working mom. Jadi sejak Konyil 3 bulan dia sudah kenal daycare, belum full day dan belum 5 hari full. Semua bertahap pelan-pelan. Nah peran sebagai sopir dimulai ketika dia mulai maauk daycare. .. Tapi yang jelas walau dia di daycare, aku ga mau kemudian meyerahkan semua proses pengenalan motorik dan sensori dia hanya di daycare serta hal-hal instan. Ya ini semata karena ideologiku saja.

Hidupku jadi kaya sirkus ketika Konyil mulai MPASI. Satu, Konyil itu tidak menyusu langsung tapi dari hasil pompa ASI tiap 2 jam. Dua, nyiapin bubur, dan pure buat makan dia juga butuh waktu. Jadi waktu tidurku waktu Konyil belum genap 1 tahun itu.. cuma sekitar 3 jam sehari. Setiap hari.

Begitu dia mulai bisa mengucapkan kata, mulai deh peran sebagai translator dan proofreader berjalan. Bahasa ibu namanya… berarti.. apa yg diucapkan si anak cuma ibunya yang paham. Apapun itu.. bahkan ayahnya kadang mumet sama celoteh si Konyil.

Peran apalagi ya yang semakin bertambah seiring usia anak… hmm… koki. Nah ini, untung ak suka masak. Cuma pusing aja karena Konyil tu sukanya cuma itu-itu aja, mau diganti variasi menu sampai kaya apa..kalau ditanya “mau makan apa nanti?” Jawabannya kalau ga A ya B. Alhasil simbok berkreasi dengan menu yang dia tadinya ga suka, misal daging dan tahu.. jadi sesuatu yang oke di lidah dia. Walau masih banyak bahan pangan yang belum berhasil jadi enak di lidah dia. Contohnya.. tauge!

Terus.. temen main. Nah ini kadang butuh energi. Aseli deh. Gimana enggak.. kalo anakmu itu mintanya maen perang-perangan, polisi-penjahat, pura-pura renang, tapi di dalam permainan itu sama sekali ga ada sesi hening, a.k.a ngemeeeeeeeeeeeeeeeeng terus. Yaps. Konyil itu paling ga bisa diem. Maunya ngomoooong, nyanyiiiii, ngomoooong, nyanyiii lagi.. lompat-lompat sambil nyanyi atau sambil ngomong. Gitu aja terus. Bahkan kalo tidur pun dia tu ngelindurnya kalo ga nyanyi ya cerita. Menarique kan?

Peran berikutnya.. guru nggambar. Ini aku sungguh ngekek. Waktu aku kecil, aku sama sekali ga suka gambar. Di les-in sama ibu aja aku ngambek, akhirnya yang ngerjain tugas les itu ibu. Hahaha.. lha dalah ini si Konyil suka gambar dan suka mewarnai. Pulang sekolah ambil buku gambar atau buku mewarnai. Dia bahkan nangis kemarin ga menang lomba mewarnai. Alhasil, dia sekarang hobi nyuruh simbok nggambar terus dia yang mewarnai. Duh dek… taukah kamu itu sungguh cobaan buat simbokmu yang nggambar rumah aja cuma mainstream bisanya.

Lalu…paling susah peran apa? Peran ibu. Itu yang paling susah. Karena semua peran di atas itu belum semua kutuliskan, dan peran itu semua sepaket.. you as a mom.

Tapi ya ini adalah keputusanku untuk mau handle Konyil sendiri kalo di rumah (maksudku kalo di rumahbya adanya cuma bapak sama simbok Konyil, ga ada embak dan eyang). Walau tidak semua peran bisa kulakukan dengan baik dan sempurna, bahkan masih dengan stok kesabaran yang gampang banget menipis, tapi aku paham bahwa semua peranku yang terbungkus dalam kata ‘mommy’ ini akan menjadi dasar buat Konyil untuk tiap langkahnya nanti..

Sudah siap jadi ibu? Peran apa yang paling asik buatmu?

-Tha-

Simple Story

Hape High End, Buat Apa?

*postingan ini tidak ditujukan untuk mendiskreditkan kelas ekonomi dan profesi apapun. Cerita yang tertera di sini adalah kisah yang saya jumpai secara nyata.

Smartphone itu sesuatu yang bagiku adalah dan hanyalah sebuah alat, bukan sesuatu yang harus saya banggakan dan tidak pernah kugunakan sebagai simbol status (apappun lah mau status ekonomi, sosial, kejombloan..). Jadi ya hanya alat komunikasi, medium saja.

Alasan itu juga yang bikin aku jarang banget ganti hape kecuali udah buosok, entah layarnya udah gelap, touch screen yang tak lagi bisa di-touch. Hahah.. Sebagian besar yang menjawab poll di IG-ku (90%) juga menjawab mengganti hape karena rusak bukan karena ikut tren. Alasan ini yang bikin mas bojo itu guemes. Menurutnya hape keluaran 2016 itu sudah wagu kalau kupake dengan profesiku dan online activity yang kulakukan, termasuk di dalamnya ngerjain konten IG sama blogging.

Tapi ya karena aku tu muales yang namanya harus mindah memori, mindah akun ke hape baru, selalu menunda pembelian hape ini dengan alasn ‘enggak butuh hape, mending duitnya buat main capit-capit” *lalu dikeplak mas bojo. (note: sampai sekarang hapeku belum ganti).

Tetapi realita di luar hidup dan lingkungan sosialku sempat membuatku berpikir, ada hubungan apa sih antara hape sama status sosial itu? Mas bojo itu kebetulan punya bisnis sampingan imut-imut jual beli hape. Dari bisnis itu kesempatan bertemu banyak orang baru pun terbuka. Kesempatan – kesempatan ini yang kemudan sering menjadi trigger diskusi kami berdua.

Hape yang saya punya sekarang adalah salah satu contohnya. Hape ini saya beli 2 tahun lalu. Mereknya Samsung J7 Prime (lawas tenan yes?). Buatku hape ini sudah wow, cukup buat WA, IG, FB, ngeblog, ngemail, ngedit video, ngedit foto, nyecan, selfie. Mungkin hasilnya tidak istimewa banget tapi cukup. Nah hape ini, 2 tahun yang lalu masih bisa dibilang agak mahal harganya. Itupun saya mau beli karena hape saya sebelumnya sudah ga bisa ngeluarin huruf ‘P’ . haahahah…

Hape ini ga kubeli baru ya, tapi seken. Aku percaya pada judgment mas bojo karena dia memang menekuni perhapean ini dan tahu mana hape yang bagus dan tidak walau seken. Hape ini (yang kala itu masih keluaran baru dan harga dikisaran 3 jutaan, adalah milik seorang penjual bakso asal Wonogiri. Isi hape itu ketika kami lihat dan belum di hard restart, hanya ada aplikasi standar, tanpa tambahan aplikasi lain. Ketika ditanya mas bojo, hape ini biasanya buat apa, dijawab “buat WA sama FB aja mas.”

Kisah lain datang dari hape baru mas bojo. Sebuah Samsung S8. Dia bahkan ga percaya hape ini cuma dilepas dengan di bawah pasar. Maka dia cek benar-benar, dan akhirnya yakin bahwa ini adalah barang asli.

Siapa pemilik hape ini? Seorang penjual angkringan, yang harus menjual lagi hapenya untuk menebus gerobak angkringannya, di samping itu dia masih harus membayar angsuran hape sang istri, sebuah iPhone S6, sekitar 300ribu per bulan. Kembali ke hape S8 mas bojo, setelah dicek dan belum di restart pun bisa dilihat bahwa tidak ada aplikasi tambahan dalam hape itu. Standar pabrik.

Mas bojo dan saya kemudian berdiskusi tentang, apa gunanya memiliki hape high end, Samsung S8 lho iniiiii, tapi tidak dimanfaatkan secara maksimal? Kalau aku yang punya dah tak buat foto terus itu, buat review kosmetik. wkwkwk. Kami berkesimpulan pada satu titik, di mana hape itu bisa mencerminkan kesuksesan usaha mereka (sebagai pemilik usaha bakso, dan angkringan), dan akan memberikan nilai plus (secara sosial). Tapi lalu kami sedih, kalau hape high end itu dibeli secara kredit bulanan, bukankah berarti mereka harus memotong profit mereka yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lain atau mengembangkan bisnis (beli gerobak baru misalnya). Ah.. kami berdua kemudian merasa buntu untuk berdiskusi tentang itu. Mungkin kami saja yang tidak paham fenomena ini.

Pengen rasanya melanjutkan ngobrol dengan pemilik hape ini, supaya bisa dapat insight, supaya bisa lebih paham lagi. Tapi apa daya.. waktu jugalah yang harus memisahkan karena si bapak pun harus ketemu buyer lain yang mau ambil iPhone S6 milik sang istri.

-Tha-

Simple Story

[Tips]Boneka Capit, pasti sukses

Hi gaes, kali ini aku mau bagi-bagi tips biar bisa dapetin boneka di arcades, semacama Tim*z*n*, K*dsf*n, dan sejenisnya. Kenapa aku bikin tips ini? Mungkin karen aku ahlinya cuma ini gaes. Maapin ya… keahlianku emang receh banget gini.

So, let’s get started.

1. Boneka kecil apa gede?

Itu terserah kamu gaes selera. Aku biasanya pemanasan dulu ke mesin-mesin dengan boneka kecil. Kenapa? Ya karena lebih murah lah gaes. Masak baru pemanasan uda ngabisin duit? Jangan donk.

2. Boneka yang tersusun rapi apa yang uda berantakan?

Nah, ini yang pasti! Pilih yang udah berantakan. Semakin rapi bonekanya, jarak antarboneka makin rapat apalagi untuk mesin dengan boneka kecil-kecil. Semakin rapat jaraknya, semakin berisiko si capit untuk ga bisa turun secara penuh. Risikonya capit malah cuma ((mencong)) dan meleset. Mesin dengan boneka besar jarak antarbonekanya lumayan jauh. Jadi, boneka yang masih rapi bisa juga dicapit. Tapi… tengok tips berikutnya.

3. Boneka yang masih tegak atau yang sudah ((ndlosor))?

Pilih yang sudah ndlosor. Posisi tangan dan kaki boneka yang terekspos jelas memudahkanmu membuat perhitungan titik mana yang diincar.

4. Incar kepala atau badan?

Badan. Selalu incar badan atau bahkan pantat boneka. Incar kepala itu 50% capitnya ga akan kuat ketika ngangkat, akibatnya boneka yang tercapit jatuh pas capit terhentak. Tipsku: titik tengah capit arahkan ke titik tengah perut atau punggung boneka.

5. Jangan senang dulu

Boneka yang sudah tercapit dan terangkat selalu bisa jatuh pas capit terhentak (otomatis mesin ya gaes). Jadi kontrol emosimu gaes.

6. Lihat performa capit

Ada mesin-mesin yang asli udah elek banget capitnya. Coba amati orang-orang yang makai mesin itu, sukses tidak mereka, minimal sampai mengangkat boneka. Jika iya, maka mesin itu capitnya masih bisa diandalkan. Jika tidak, a k a luput terus, sudah tinggalkan saja mesin itu dan cari mesin lain. Ingat amati orang lain dulu.

7. Tahan ambisimu!

Berapa kali sih harus nyoba sampai dapet? Geregetan kalau ga dapet…. wajar sih ngrasa gemeeessss gitu berkali-kali coba kok ((luput)). Nah, kalau aku 3x gagal pada 1 mesin aku berhenti, bisa jadi semua posisi boneka tidak menguntungkan (kalau capit dipastikan baik-baik saja ya). Tapi, jika memang ada boneka yang posenya uda capit-able nih, lanjut aja. Aku sih ga pernah lebih dari 7x pasti sudah dapat.

Rekorku, boneka paling murah Rp 4900 (1x capit) dan paling mahal Rp 91000 (7x capit). 7x itu sengaja main los ya gaes karena bonekanya anjing guedheee yang kuincaaaarrr walau sekali capit Rp 12.900…wkww bangkrut gaes. But it’s paid off!!

Silakan coba dipraktekin.. wish you all luck! Kabari ya kalau sukses dengan tips ini.

-Tha-

Simple Story

How Ambitious Are You, Parents?

Dear parents, I wrote this because I saw with my own eyes the ambition of a mother.

I accompanied my girl in a coloring contest. My girl is only 3.5 yo. A boy sat next to her was just as old as she is. I brought my daughter only a set of crayons, that’s it. For me, I just wanted to show her that it’s just a fun event. Meanwhile, the mother of the boy prepared 3 sets of coloring tools. Oh wow, he must love coloring, I thought.

The contest begun. The children had 90 minutes to finish it. I let my girl chose every colors she wanted, even if it meant she choose green for face. 🤣 but hey, it should be a fun moment, right?

Meanwhile, the mother of the boy started to give orders to her kid. How ground should look like, what color he should use. She raised her voice when the boy didn’t do it. I was shock.

This story is not about the mother of the boy, I won’t judge her. But this is about me and my view. I raise my kid to know competition. I believe it is important because this world goes crazy on competition nowadays.

But, I want her to understand that in competition she doesn’t have to always be the winner, I want her to enjoy the competition so that she can do her best. I am a mother who believes that introducing competition in a too hard way may cause trauma for children. They might wanna stop and hate the competition at one point.

Yes, I have seen many parents want their children to be a winner in a contest until they get emotional to the children. Well, I agree 100 percently that children should be taught about winning. But they also have to learn how it feels when they loose.

Thus, how about we, as parents let our children explore their own terms about competition. What winning and loosing mean to them. Let them enjoy the process.. we don’t need to be ambitious collecting trophies which aren’t ours.

So..readers, this is only my thought. You don’t have to agree with it.. 😊😊

-Tha-

.A mother.

Simple Story

Ngomentarin anak orang? Noway!

Cerita ini kualami sendiri dan mungkin pernah dialami oleh para ibu lainnya. Komentar-komentar pedas orang lain yang ditujukan untuk anak kita.

Onyil, anakku, umurnya hampir 4 tahun. Berat badannya 12 kilo. Kecil? Kurus? Memang. Tapi bukan hak siapa pun yang tak paham latar belakang dan kebiasaan anakku untuk bisa berkomentar seenaknya.

Beberapa hari lalu, seorang miss di sekolahnya tiba-fiba berkata, “Onyil tu bener cacingan ya ma?”

“Whaatt??!!” Batinku saat itu. Masih kutahan emosi dan kubertanya balik, “he? Dari mana miss infonya?” Lalu ditimpali

“Oh enggak, soalnya kok badannya kecil”

Dari situ ku merasa sangat marah. Kuhanya jelaskan singkat kalau dokter Onyil yang paling paham tentang itu, lalu kutinggal pergi.

Aku paham betul, mungkin miss ini ga paham kondisi Onyil dan cuma ingin tahu. Tapi sungguh, sebagai seorang yang bekerja di educative daycare kok ya ga pas gitu pemilihan kata dan cara bertanyanya.

Lain cerita jika yang disampaikan adalah rasa ingin tahunya, seperti “ma, boleh tau ga kondisi Onyil kok badannya kecil ya walau makan banyak? Apa ada kondisi tertentu?”

Kalau nanyanya gtu enak kan yaaaa… lha ini..langsung ngejudge anakku cacingan. Hei! Anak kurua dan kecil itu belum tentu cacingan ya, banyak faktornya. Anak makan banyak badan kecil juga belum tentu di perutnya ada cacingnya.

Genetis misalnya, aku dan bapaknya Onyil itu bisa terhitung kurus/kecil untuk tinggi badan kami.

Lalu masih ada riwayat sakit. Si miss juga ga tau kalau Onyil itu hypertension survivor, di rawat di rumah sakit 1 minggu dan sisanya harus kontrol tiap 2 minggu sampai sebulan sekali selama 6 bulan dengan minum obat dari 3x sehari sampai turun jadi 1x sehari. Bahkan sampai sekarang walau sudah lepas obat dia masih harus kontrol.

Pertanyaan si miss ini sungguh bikin sedih, seolah ku tak memperhatikan anakku. Meninggalkan dia di daycare 7 jam sehari bukan berarti aku ga perhatian lho sama kesejahteraan dan kesehatan dia. Bekal Onyil ke sekolah itu paling lengkap di antara teman-temannya karena dia selalu bawa tambahan buah, selain susu dan snack. Obat cacing dan imunisasi dan vitamin juga selalu diberikan sesuai waktunya.

Ku yakin banyak ibu di luar sana yang pernah mengalami hal serupa, mungkin bukan soal kurus, tapi soal yang lain seperti perkembangan kognitif, kelancaran bicara, keterlambatan jalan, dan lain-lain.

Intinya ya… jangan sembarangan kalau bicara dan berkomentar tentang anak orang apalagi ga kenal banget. Kalau penasatan tentu boleh, tapi dijaga kata-katanya, hati-hati pilihan katanya. Hati seorang ibu itu rapuh jika terkait hl seputar anaknya.

-tha-/simbok

Simple Story

Happiness on your own terms

A few days ago I wrote on my WhatsApp status, “I wanna be happy on my own terms, not yours”. For some, it sounds selfish. Isn’t it? But I wrote that by reflecting the reality around us.

People are constantly receiving demands, requirements, terms and conditions, in their daily lives from their work, their school, their teachers, their friends, even by their own families.

Those requirements are often related to our happiness, by their own terms. For example, you are single and haven’t got married by 30. Your family starts asking, “why haven’t you got married?”, “What kind of guy/girl are you searching for?”. Sometimes they even start judging, “You have way too high standard”, “Don’t be too hard to people who wants to get to know you”, and many other sentences you can relate to. As if when you haven’t got married in the age of 30, you won’t be happy and you ARE not happy.

But hey, we have our own terms to be happy. We can be happy on our own terms without following the standards of others’. I’m not saying that their terms are bad, no. Their terms, I’m sure, are based on their concerns because they care about us.

But again, this is your life, not theirs. We are the one who understands all the circumstances that happen in our lives. We are the one who should decide what we’re going to do and bear with the consequences. It doesn’t mean that we will just turn down all what they say, but we need to understand ourselves, our limitations, our strength, our goals so that we can also create our own happiness.

It is not about being selfish, it is about self understanding and be happy on our terms. You probably will be misunderstood, or misjudged but… you all already know the risks, right?

-Tha-

Simple Story

Kenapa rambutnya dicat terus?

Pertanyaan di judul tulisan ini sudah kaya makanan sehari-hari. Pertanyaan ini pun tak berhenti di situ, lanjutannya adalah.. catnya merk apa? Di salon apa cat sendiri? Ga takut rusak? Di bleaching ga? Perwatan rambutnya apa? Terus aja ampe taun barunya pindah ke bulan Maret.

Nah, kuceritakan saja di sini ya.. awal mula kenapa sampai sekarang rambutku selalu dicat. Berawal dari ketika kumenyadari warna rambut aseliku. Bukan hitam. Rambutku itu kecoklatan dari sononya. Enggak hitam kaya iklan-iklan shampoo segala merek yang bertebaran di media, yang katanya rambut aseli orang Indonesia. Genks… guweh aseli Indonesia, tulen, 100% wong Jowo.

Waktu kecil, rambutku keliatan kusem banget kalau dibandingkan teman yang lain karena emang rambut sampingku itu cokelat apalagi kalau di bawah sinar matahari. Makin keliatan cokelat.

Tapi berhubung aturan sekolah, sampai SMA ya masih bertahan dengan warna aseli rambutku. Sampai satu saat di SMA, out of nowhere, aku dipanggil donk sama guru BP, di sidang karena rambutku cokelat. Aku sudah membela diriku, ku bilang dengan jujur kalau ini warna rambut aseli. Tapi malah makin dimarahi. Lalu, ak dihukum donk, harus MENGHITAMKAN rambut dan lapor ke guru BP besok paginya sebelum jam pelajaran dimulai. Bayangin, rambut aseli malah disuruh ngecat item. DUH!

Apa daya, kucuma murid yang sudah dimarahi habis. Nurutlah.. cat hitam itu adalah cat rambut pertamaku. Setelah lulus SMA, sepertinya ku cukup trauma dengan urusan warna rambut. Atau mungkin, ku sangat jengkel dengan realita bahwa rambutku yang warnanya ga sesuai iklan shampoo itu dianggap ga aseli.

Semenjak itu, aku seperti ‘tidak suka’ dengan warna aseli rambutku dan malah merasa ga cocok sendiri. Ya, silakan men-judge diriku tidak mensyukuri tubuhku. Ga papa. Ku sadar kalo ga ku cat pun, orang tetep tanya kok rambutku dicat apa? Atau di highlight ya rambutnya? Semata-mata karena warna rambutku tidak hitam seperti iklan shampoo.

So, sejak kuliah sampai sekarang, berarti sudah lebih dari 15 tahun aku selalu cat rambut. Pilihanku biasanya cokelat, untuk menguatkan warna rambut aseliku. Biar kalau ditanya lagi, cat merek apa atau warna apa bisa tak jawab jelas.

Tapi, makin ke sini aku lebih suka warna merah. Ku merasa lebih cocok dan ngasih semangat aja tiap liat rambut. Wkwkw… atau semacam liat vokalisnya Paramore gitu (pede). Dengan warna merah ini aku juga gampang jawab semua pertanyaan dari orang sekitar, ga ribet, ga usah jelasin warna aseli rambut de el el.

Aku tetep cinta rambutku kok walau kucat terus. Aku hanya ga cocok dengan warna aselinya yang membuatku sering berada di posisi ditanyain orang mulu. Lelah genks..

Rambutku tetep kurawat sendiri dengan vitamin dan shampoo yang cocok. Enggak mahal juga karena ku hampir ga pernah cat rambut di salon. Selama 15 tahun ngecat rambut, cuma sekitar 3 kali kulakukan di salon. Sisanya.. cat sendiri lah… gampang kok.. asal ga highlight ya.. susah kalo itu!

Gitu ya gaes ceritanya soal warna rambutku. Kalau ketemu aku di jalan, ga usah tanya lagi kenapa kok rambutku dicat. Cukup tanya merek yang kupakai sekarang apa. Gitu yak..

See you in my next post!

.Tha.