Simple Story

Complaint handling

Consumers are the king, by that what I mean is that we as a consumer should be given the best service and the best quality of products.

When we do not get it, than it’s our rights to complain. I do it several times for the services and products I used and I bought. However not all sellers or service givers take the complaints seriously. If I complain directly face to face, some of them just simply give an OK and thank you. If I complain by leaving comment on their website or Google review, some of them even ignore it.

But recently, I complained to a plushies store. I am actually a regular customer. One day I bought a plushie with horn on its head and the material (pipe cleaner for craft) popped out and it was actually sharp. The one who found it out is my lil daughter.

I sent my complaint to the store through LINE with complete pictures of the plushie and the pipe cleaner. As usual I expect nothing in return. Just say clearly how dangerous it could be if a younger child play with it.

They said thank you for the input and apologized for the inconvenience. Ok. Case closed I thought. Out of nowhere, a few days later, they asked for my address to send a gift. When the gift arrived, I was super excited. I know for sure they’d send me a plushie but I just can’t help the excitement. A (ca.) 40cm-tall yellow dino plushie is in the gift bag.

Along with the gift card. As a costumer I am so happy because I feel heard. As for the business, it’s a winning because they successfully handle the complaint. Both parties are happy.

Me, the happy costumer,

.Tha.

Advertisements
Simple Story

Selera Makan Anak Cewek

Post ini ditujukan buat emak-emak yang mungkin merasakan hal yang sama denganku di sini tentang selera makan anaknya yang ternyata mirip banget sama bapaknya. So, tulisan ini bukan hasil riset ya.. mau dibuantah sak kayangnya juga gapapa… tapi ini hasil pengamatanku pada anak perempuanku sejak dia makan nasi ditambah berbagai kenanganku sebagai anak perempuan juga dari bapakku (lha iyah laaah bapake sopo maneh?)

Ada quote tenar “kumengandung anakku 9 bulan, tapi dia lahir mirip bapaknya”. Itu kayanya joss banget buat mendeskripsikan perasaan emak-emak dengan anak perempuan (atau mungkin guweh ajah?). Termasuk salah satunya adalah tentang selera makan ini.

Anakku yang sekarang umurnya 4tahun ini, minat makanannya sangat bapaknya (maap ini topik retjeh, tapi mengusikku jew). Dia sukanya tempe goreng, ayam goreng, ikan goreng, nasi goreng. Padahaaaaaal dari dia pertama kali makan kusudah dengan semangit (saking semangatnya) ngasih dia semua yang mungkin. Ikan ya dikukus, ayam dikecap, tahu, telor rebus, bubur semua deh sebutin. Tapi begitu dia punya ability to state what she wants, bubarlah itu semua.

Bubur kagak mau.. hoek dia. Telor rebus.. geleng kepala. Ikan kukus..nengok aja kagak. Tahu..dia bilang enggak enak. Oh my God. Mamak ini pengen lho dia makan seimbang..

Mau tak mau dia kadang dikondisikan memang harus makan sesuatu yg dia ga terlalu doyan tapi penting buatnya. Salah satunya daging (sesuai saran dokter dia karena ada indikasi medislah pokoknya). Nah, anak ini pun tak suka daging persis bapaknya. Akhirnya selalu disiasati dengan dicampur sama telor puyuh (jenis telor rebus yang dia setidaknya mau). Tapi..tetep aja didampingi…tempe goreng, kalau perlu dia nyuruh bapaknya dulu buat gorengin. Partner in crime banget kan ni berdua.

Seafood juga makanan yang anakku ga mau makan sampe sekarang. Udang, cumi, kerang, kepiting, nothing. Mirip siapa? Betul, bapaknya, yang sama sekali ga doyan. Sudah kukenalkan? Ooh, sudah. Tenang netijen, dia sudah kukenalkan. Tetap tak mau (tapi..kutak menyerah netijen..kukan coba lageee).

Tapi..lalu kuingat masa kecilku dulu. Kenapa dulu ibuku kalo masak harus macem-macem lauk? Ternyata, selera makanku dan kakakku beda. Aku lebih mirip bapakku sementara kakakku (cowok) lebih mirip ibu. I was indeed the partner in crime of my father, yang mau makan segalanya dari seafood sampe tempe, jeroan sampe kikil, daging juga oke, yang kadang itu ga disukai ibu. Jadi, terpaksalah ibu masak beberapa jenis biar semua orang rumah bisa makan dengan kenyang (ga harus tenang..haha).

Berkaca dari hal itu (kaca mana kaca!) Ak tetep berusaha supaya dia mau coba hal lain yang ayahnya ga suka. Please deh, mosok kebiasaanku ga ada yang kuturunkan padanya? Jadi, dia ku’paksa’ coba aneka yoghurt, makan buah-buahan yang ayahnya ga doyan, makan pasta creamy yang ayahnya juga ga suka. So far, it works. Walau sebagian besar seleranya, kesukaannya lebih ke bapaknya. Contoh lain? Anakku lebih suka roti tawar pakai mentega daripada roti manis dengan berbagai isinya, itu juga mirip bapaknya.

But at least, my husband and I have 1 thing in common. We love bakmi (apapun bentuknya dari mie ayam, yamie, mie jowo, mie goreng, mie instan..). Waktu hamil pun ku ngidam mie ayam (chinese food). Ya alhasil, entah gimana.. setelah usia 3 tahun ni anak jadi doyan banget sama mie, sebelumnya ga lho… (menurutku sebagai emaknya ini ajaib)

Ku tak tau cerita emak-emak yang lain, kalau ada yg beda nasib boleh lho cerita di komen. Biar ku bisa paham dunia lain selain dunia bapak dan anak ceweknya inih…

Salam emak,

Tha

Simple Story

Onyil Pijet

Cerita Onyil pijet hari ini mau tak bagi dua. Satu cerita dramanya, satu lagi review tempat pijetnya. Gitu ya biar adil dan makmur. Siapa? (Hemboh).

Onyil itu waktu bayi emang rajin pijet netijen budiman, tapi.. setelah usia dua tahun (entah kenapa) simbok ini males banget ajak dia pijet. Plus bingung cari tempat yang enak buat dia pijet. Soalnya di tempat dia pijet bayi dulu ga biaa buat anak gedhe. Kayanya itu deh alesannya..(ga mutu yo? Hooh.. emang.. wislah blame on me pokoke)

Nah, hari ini kuajaklah dia pijet. Dengan semua deskripsi pijet yang bisa dipahami anak 3.5 tahun. Semangat dong yes anaknya, emaknya juga karena perjanjiannya adalah kami pijet bareng.

Yak berangkatlah kami ke sebuah tempat pijet di daerah Sleman. Sesampainya di sana, muka ceria itu hilang. Langsung ciyutlah si Onyil. Ga mau pijet.. Dua terapis sudah ikut masuk ke ruangan eh.. malah nangis si Onyil.

Emak tak sabar, mulai naik pitch-nya.. hohoho.. sementara si terapis tenang aja di dalem ruangan. Alhirnya si emak duluan pijet, maksudnya biar Onyil liat kalau dipijet itu ga papa dan ga sakit.

Terapis yang emang dijadwal mijet Onyil duduk di bawah Onyil, walo Onyil sesenggukan. Pelan-pelan dia pijet kakinya tanpa harus ganti pake selimut jarik. Lalu Onyil berhenti nangis dan malah turun dari kursi buat liat emaknya yang lagi keenakan dipijet.

Seribu kalimat wis kulontarkan ke Onyil supaya dia mau naik kasur dan dipijet di samping simbok. Kira-kira 5 menit kemudian dia mau naik kasur dan dilepas bajunya untuk ganti jarik.. pelan sekali prosesnya, dan terapisnya donk sabar banget. Teteo dipijet punggungnya Onyil walau dia belum tengkurep.. masih duduk aja maunya. Emaknya sambil sipijet sambil elus-elus tangan Onyil. Lama-lama dia luluh juga dan mau tengkurep… hurraaaayyyyy!!!!

Sampai akhirnya dia mau full pakai jarik, dipijet kaki, tangan, kepala lengkap dan bilang “enak ya mom dipijet besok kita ke sini lagi!” Oh sungguh rasanya pengen kutonyo dia setelah drama nangis-nangis tadi. Sebetulnya asa 2 hal yang buat Onyil akhirnya luluh. Pertama, sabarnya terapisnya. Kedua, iming-iming berendam. Yap..di tempat pijet (a.k.a spa) ini emang ada bath tube buat berendam yang bisa jadi whirlpool gitu. Jadi, Onyil udah membayangkan berendam bubbles (busa kui lhoo busaaa)..

Nah, harus kutepatilah janji itu dengan minta treatment berendam juga karena si Onyil sudah luluh dan (akhirnya hepi) dipijet. Berendam 30 menit lengkap dengan whirl-nya. Busanya buanyaaak banget, Onyil kesenengan dan berulang-ulang bilang “mom, seru banget mandinya.. besok lagi yaaaa”

Yah baiklah, yang penting dia ga takut pijet lagi. Makasih juga buat terapis bernama mbak Asih yang suabar puooool sama Onyil. Besok sama mbak Asih lagi yaaaa..

-tha mak Onyil-

Simple Story

I need to prepare…

Today, accidentally I landed on reading an IG story of a friend. She had a dog named Vegas, a golden retriever breed, which really closed to my friend’s daughter. Vegas was really ill and couldn’t survive. My friend put the story of her daughter and Vegas on IG. It brought me into tears. I just couldn’t handle it, seeing how an unconditional love could grow so strong between a little girl and a dog.

My friend’s story makes me realize that I need to be prepared. I also have a little girl and also a senior black toy poodle names Armadillo. I adopted him when he wae around 2 years old. This cute dog always was always by my side when I was pregnant.

As my girl grows bigger, they always play together, inseparable. They have breakfast together, cuddle, chasing around both ways. Sometimes Dillo won’t eat if my girl is not around. She can call his name a hundred time a day, just to get his attention. She put headband on his head eventhough she knows our dog is a boy! But Dillo is such a kind-hearted dog.. he just stay there when my girl puts the headband, tiara, or even sunglasses on him.

The vets that regularly check Dillo warns us to have one more dog, considering that Dillo is already 9 years old now. She’s a bit worried if it would be a great loss for my daughter when it comes for Dillo to go. The same thing was said by my daughter’s pediatrician. She highlighted the possibility of trauma for my girl if Dillo passed away.

I know having two dogs means more works..but also.. more loves. I’m in the process of adopting another dog. I do hope everything goes well..and my daughter will be prepared enough when the time of her lovely dog comes.

-Tha-

Simple Story

What it means to be grateful

Hi dears,

I have something in mind. Lately I question myself, the meaning of being grateful.

1. You have a dream job, but you loose yor passion in it. You want to let it go. Does it mean you are not grateful?

2. You leave you job because you want to have a meaningful life by being healthy in mind and body. Can’t you call it not grateful?

Aaah… I have no idea…

-end-

Simple Story

Stand Alone

Temperature is dropped by 5°C and I have nothing to cover my shaking body accept my hoodie.

‘Great’ I whispered.

I walk in to the nearest coffee shop, hope it would help warming me up a bit. I choose to sit at the corner, near the window. Holding my warm cappuccino cup, I look at the window and let my mind wandering.

‘I’m alone and I have always been’, I said to myself.

I look around the café and all that I see is people laughing with their friends or lover.. well, not like me. Even in such cold weather, I’m just alone hugging my hoodie because it’s too cold.

Finishing my coffee, I prepare my self to go back to the cold weather. Pulling my hoodie to cover my head, I walk as fast as I can until I feel a cold drop of water. It’s raining..another luck.

It stops my step. I surrender and look up to the sky to feel the rain drops on my face. I cry under the lamppost.

-end-