Simple Story

Hape High End, Buat Apa?

*postingan ini tidak ditujukan untuk mendiskreditkan kelas ekonomi dan profesi apapun. Cerita yang tertera di sini adalah kisah yang saya jumpai secara nyata.

Smartphone itu sesuatu yang bagiku adalah dan hanyalah sebuah alat, bukan sesuatu yang harus saya banggakan dan tidak pernah kugunakan sebagai simbol status (apappun lah mau status ekonomi, sosial, kejombloan..). Jadi ya hanya alat komunikasi, medium saja.

Alasan itu juga yang bikin aku jarang banget ganti hape kecuali udah buosok, entah layarnya udah gelap, touch screen yang tak lagi bisa di-touch. Hahah.. Sebagian besar yang menjawab poll di IG-ku (90%) juga menjawab mengganti hape karena rusak bukan karena ikut tren. Alasan ini yang bikin mas bojo itu guemes. Menurutnya hape keluaran 2016 itu sudah wagu kalau kupake dengan profesiku dan online activity yang kulakukan, termasuk di dalamnya ngerjain konten IG sama blogging.

Tapi ya karena aku tu muales yang namanya harus mindah memori, mindah akun ke hape baru, selalu menunda pembelian hape ini dengan alasn ‘enggak butuh hape, mending duitnya buat main capit-capit” *lalu dikeplak mas bojo. (note: sampai sekarang hapeku belum ganti).

Tetapi realita di luar hidup dan lingkungan sosialku sempat membuatku berpikir, ada hubungan apa sih antara hape sama status sosial itu? Mas bojo itu kebetulan punya bisnis sampingan imut-imut jual beli hape. Dari bisnis itu kesempatan bertemu banyak orang baru pun terbuka. Kesempatan – kesempatan ini yang kemudan sering menjadi trigger diskusi kami berdua.

Hape yang saya punya sekarang adalah salah satu contohnya. Hape ini saya beli 2 tahun lalu. Mereknya Samsung J7 Prime (lawas tenan yes?). Buatku hape ini sudah wow, cukup buat WA, IG, FB, ngeblog, ngemail, ngedit video, ngedit foto, nyecan, selfie. Mungkin hasilnya tidak istimewa banget tapi cukup. Nah hape ini, 2 tahun yang lalu masih bisa dibilang agak mahal harganya. Itupun saya mau beli karena hape saya sebelumnya sudah ga bisa ngeluarin huruf ‘P’ . haahahah…

Hape ini ga kubeli baru ya, tapi seken. Aku percaya pada judgment mas bojo karena dia memang menekuni perhapean ini dan tahu mana hape yang bagus dan tidak walau seken. Hape ini (yang kala itu masih keluaran baru dan harga dikisaran 3 jutaan, adalah milik seorang penjual bakso asal Wonogiri. Isi hape itu ketika kami lihat dan belum di hard restart, hanya ada aplikasi standar, tanpa tambahan aplikasi lain. Ketika ditanya mas bojo, hape ini biasanya buat apa, dijawab “buat WA sama FB aja mas.”

Kisah lain datang dari hape baru mas bojo. Sebuah Samsung S8. Dia bahkan ga percaya hape ini cuma dilepas dengan di bawah pasar. Maka dia cek benar-benar, dan akhirnya yakin bahwa ini adalah barang asli.

Siapa pemilik hape ini? Seorang penjual angkringan, yang harus menjual lagi hapenya untuk menebus gerobak angkringannya, di samping itu dia masih harus membayar angsuran hape sang istri, sebuah iPhone S6, sekitar 300ribu per bulan. Kembali ke hape S8 mas bojo, setelah dicek dan belum di restart pun bisa dilihat bahwa tidak ada aplikasi tambahan dalam hape itu. Standar pabrik.

Mas bojo dan saya kemudian berdiskusi tentang, apa gunanya memiliki hape high end, Samsung S8 lho iniiiii, tapi tidak dimanfaatkan secara maksimal? Kalau aku yang punya dah tak buat foto terus itu, buat review kosmetik. wkwkwk. Kami berkesimpulan pada satu titik, di mana hape itu bisa mencerminkan kesuksesan usaha mereka (sebagai pemilik usaha bakso, dan angkringan), dan akan memberikan nilai plus (secara sosial). Tapi lalu kami sedih, kalau hape high end itu dibeli secara kredit bulanan, bukankah berarti mereka harus memotong profit mereka yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lain atau mengembangkan bisnis (beli gerobak baru misalnya). Ah.. kami berdua kemudian merasa buntu untuk berdiskusi tentang itu. Mungkin kami saja yang tidak paham fenomena ini.

Pengen rasanya melanjutkan ngobrol dengan pemilik hape ini, supaya bisa dapat insight, supaya bisa lebih paham lagi. Tapi apa daya.. waktu jugalah yang harus memisahkan karena si bapak pun harus ketemu buyer lain yang mau ambil iPhone S6 milik sang istri.

-Tha-

Simple Story

Kenapa rambutnya dicat terus?

Pertanyaan di judul tulisan ini sudah kaya makanan sehari-hari. Pertanyaan ini pun tak berhenti di situ, lanjutannya adalah.. catnya merk apa? Di salon apa cat sendiri? Ga takut rusak? Di bleaching ga? Perwatan rambutnya apa? Terus aja ampe taun barunya pindah ke bulan Maret.

Nah, kuceritakan saja di sini ya.. awal mula kenapa sampai sekarang rambutku selalu dicat. Berawal dari ketika kumenyadari warna rambut aseliku. Bukan hitam. Rambutku itu kecoklatan dari sononya. Enggak hitam kaya iklan-iklan shampoo segala merek yang bertebaran di media, yang katanya rambut aseli orang Indonesia. Genks… guweh aseli Indonesia, tulen, 100% wong Jowo.

Waktu kecil, rambutku keliatan kusem banget kalau dibandingkan teman yang lain karena emang rambut sampingku itu cokelat apalagi kalau di bawah sinar matahari. Makin keliatan cokelat.

Tapi berhubung aturan sekolah, sampai SMA ya masih bertahan dengan warna aseli rambutku. Sampai satu saat di SMA, out of nowhere, aku dipanggil donk sama guru BP, di sidang karena rambutku cokelat. Aku sudah membela diriku, ku bilang dengan jujur kalau ini warna rambut aseli. Tapi malah makin dimarahi. Lalu, ak dihukum donk, harus MENGHITAMKAN rambut dan lapor ke guru BP besok paginya sebelum jam pelajaran dimulai. Bayangin, rambut aseli malah disuruh ngecat item. DUH!

Apa daya, kucuma murid yang sudah dimarahi habis. Nurutlah.. cat hitam itu adalah cat rambut pertamaku. Setelah lulus SMA, sepertinya ku cukup trauma dengan urusan warna rambut. Atau mungkin, ku sangat jengkel dengan realita bahwa rambutku yang warnanya ga sesuai iklan shampoo itu dianggap ga aseli.

Semenjak itu, aku seperti ‘tidak suka’ dengan warna aseli rambutku dan malah merasa ga cocok sendiri. Ya, silakan men-judge diriku tidak mensyukuri tubuhku. Ga papa. Ku sadar kalo ga ku cat pun, orang tetep tanya kok rambutku dicat apa? Atau di highlight ya rambutnya? Semata-mata karena warna rambutku tidak hitam seperti iklan shampoo.

So, sejak kuliah sampai sekarang, berarti sudah lebih dari 15 tahun aku selalu cat rambut. Pilihanku biasanya cokelat, untuk menguatkan warna rambut aseliku. Biar kalau ditanya lagi, cat merek apa atau warna apa bisa tak jawab jelas.

Tapi, makin ke sini aku lebih suka warna merah. Ku merasa lebih cocok dan ngasih semangat aja tiap liat rambut. Wkwkw… atau semacam liat vokalisnya Paramore gitu (pede). Dengan warna merah ini aku juga gampang jawab semua pertanyaan dari orang sekitar, ga ribet, ga usah jelasin warna aseli rambut de el el.

Aku tetep cinta rambutku kok walau kucat terus. Aku hanya ga cocok dengan warna aselinya yang membuatku sering berada di posisi ditanyain orang mulu. Lelah genks..

Rambutku tetep kurawat sendiri dengan vitamin dan shampoo yang cocok. Enggak mahal juga karena ku hampir ga pernah cat rambut di salon. Selama 15 tahun ngecat rambut, cuma sekitar 3 kali kulakukan di salon. Sisanya.. cat sendiri lah… gampang kok.. asal ga highlight ya.. susah kalo itu!

Gitu ya gaes ceritanya soal warna rambutku. Kalau ketemu aku di jalan, ga usah tanya lagi kenapa kok rambutku dicat. Cukup tanya merek yang kupakai sekarang apa. Gitu yak..

See you in my next post!

.Tha.