Aku Hanyalah Seorang Pemimpi


Aku Hanyalah Seorang Pemimpi

oleh Birgitta Bestari Puspita

 

Aku adalah seorang pemimpi. Menghabiskan waktu di kamarku tercinta adalah aktivitas favoritku. Entah hanya untuk menatap langit-langit, mendengarkan musik, atau menuangkan pikaranku dalam sebuah tulisan. Dimanapun aku berada, menerawang ke luar jendela adalah sebuah keharusan, atau ya…otomatis selalu terjadi. Melamun. Memikirkan apa yang aku inginkan, membayangkan kemungkinan-kemungkinan dalam hidupku, memimpikan masa depan.. atau hanya sekedar membiarkan pikiranku melayang ke satu tempat nan indah entah di mana… Yah, aku hanyalah seorang pemimpi!

Aku hanya orang biasa, aku tidak istimewa. Kebebasanku adalah waktu di mana aku bisa bermimpi. Pendidikan adalah fokus hidupku. Aku nyaris tak kenal apa itu berenang-senang atau kenakalan remaja sampai akhirnya aku berusia 17 tahun. Yah, sebelumnya hidupku hanya dipenuhi dengan belajar, ekstrakulikuler, tugas sekolah, ulangan dan ujian. Tapi aku tetaplah seorang pemimpi.

Cita – citaku berganti-ganti, namanya juga pemimpi πŸ™‚ Pernah aku bermimpi jadi pramugari, waktu itu usiaku 8 tahun. Tapi sayang,akhirnya aku berkaca mata. Katanya pramugari tidak boleh berkaca mata. Maka kusingkirkan mimpi tiu, dan beralih ke mimpi lainnya.

Sekolah benar-benar menyita waktuku. Sejak SD aku berada di sekolah swasta favorit. Aku terdidik untuk berkompetisi dan digembleng untuk menjadi yang terbaik. Bahkan oleh ayahku. Jika aku pulang ke rumah membawa nilai jelek, aku sudah gemetaran di perjalanan. Takut kena marah. Waktu SD, seringnya aku menangis kalau ayahku membantuku mengerjakan PR. Entah karena beliau yang kurang ahli menjelaskan atau aku saja yang terlalu bodoh untuk mengerti. Walau begitu, aku tetap tak berhenti bermimpi.

Lulus SD dengan NEM memuaskan, membawaku ke kompetisi selanjutnya. Aku memilih SMP swastaterbaik di se-Jawa Tengah. Waktu luang dan bersenag-senang? Aku tak memahami apa artinya itu. Semakin ketat jadwal sekolah dan ekstrakurikulerku. Semakin banyak tugas dan ujian. Bahkan semua itu menyita waktuku dari mimpi-mimpiku. Waktuku yang tersisa kugunakan untuk membaca. Tenggelam dalam dunia fantasi selalu membuatku bahagia. Seperti sudah kubilang, aku hanyalah seorang pemimpi.

Ketika SMP, cita-citaku berubah menjadi seorang ekonom. Itu karena aku termotivasi oleh pamanku yang bekerja di salah satu bank negara, dan dengan pekerjaannya itu ia bisa keliling dunia. Sayangnya, setelah aku mengenal ilmu ekonomi, aku sama sekali tak jatuh cinta padanya. Maka beralihlah aku untuk mengincar teknik industri. Kupegang erat cita-cita itu sampai kelas 2 SMA. Kenyataannya, mata pelajaran kimia hanya membuat rata-rata raportku jadi menurun πŸ™‚ Akhirnya aku pun mulai banyak berpikir. Apa yang sebenarnya ingin kulakukan? Apa yang aku suka? Apa mimpiku sebenarnya yang ingin kukejar?

Semua terjawab ketika aku dudk di bangku kelas 3 SMA. Aku memilih jurusan bahasa. Saat itu, jurusan bahasa bukan jurusan yang sedang ngetrend. Sampai-sampai ibuku ditanya oleh wali kelasku,

β€œIbu yakin mengijinkan Birgitta masuk bahasa? Nilainya memenuhi lho untuk masuk IPA atau IPS”

Ibuku dengan bijaksana menjawab,

β€œTerserah anaknya, kalau dia memang suka. Saya yakin dia nanti menemukan masa depannya sendiri.”

Dan samapi detik ini aku tidak pernah sedetikpun menyesal telah memilih jurusan bahasa. Karena dari sana mimpiku perlahan jadi nyata. Selangkah demi selangkah. Yah, aku tak pernah berhenti bermimpi.

Salah satu mimpiku adalah bisa merasakan hidup diluar negeri, di Jerman. Jika ditanya kenapa, aku pun tak tahu jawabnya, Negara itu membuatku jatuh cinta. Itu saja. Dan aku menjaga mimpiku itu agar tetap hidup. πŸ™‚

Kembali saatnya penentuan jurusan. Di mana aku mau kuliah, jurusan apa? Akhirnya aku hanya memilih dua universitas untuk jurusan komunikasi, sastra inggris dan psikologi. Syukurlah aku diterima di semua jurusan itu. Dan pilihanku jatuh pada ilmu komunikasi melalui jalur khusus. Walau ayahku masih memendam keinginannya agar aku menjadi insinyur seperti dirinya. Tapi aku adalah aku, seorang pemimpi yang tidak bisaberpikir eksak. Hidup buatku adalah kejutan πŸ™‚

Menjadi lulusan terbaik dari jurusan bahasa di SMA tak membuatku berhenti bermimpi, justru itu lah titik terang untuk mimpiku. Walau ilmu komunikasi tak berkaitan langsung dengan bahasa, aku pun melangkah begitu saja menjalani perkuliahanku. Dan membiarkan diriku dikejutkan oleh hidupku. Harus diakui, dasar ilmu sosialku tidaklah kuat dan aku mengalami kesulian di perkuliahanku. Sempat aku ingin menyerah dan berganti haluan ke sastra inggris. Tapi ada yang mencegahku dan aku berkata pada diriku bahwa kau tak boleh sedetikpun menyerah dan aku harus konsekuen pada apa yang aku pilih. Bahwa meraih mimpi butuh perjuangan. Dan aku pun melanjutkan untuk bermimpi.

5 tahunkuselesaikan S1ku. Bukan waktu yang singkat. Dan tahun terakhir, dimana aku berusaha menyelesaikan Taku, buatku pribadi adalah perjuangan luar biasa, dan penuh air mata. Serius. Ibuku saksinya. Aku selalu pulang menangis setelah bimbingan dengan dosenku. 1 tahun dan akhirnya selesai juga TA itu. 1 Rim tebalnya, dan mendapat nilai maksimal setelah pendadaran. Kalau tidak salah menjadi salah satu skripsi terbaik di prodi komunikasi. Yah kali ini aku bisa bangga. Bukan sombong, tapi bangga. Itu adalah hasilku,perjuanganku,air mataku. Setelah lulus S1 pun tak sedetikpun aku berhenti bermimpi.

1 tahun setelah aku lulus, sampai juga ak di negara Jerman, seperti yang sudah kuimpikan. Yah aku terbang meraih mimpiku, setidaknya satu dari sekian banyak mimpiku. Hampir 2 tahun kuhabiskan waktuku di sini, menjalani mimpiku yang ternyata tidak mudah dijalani. Tidak seindah ketika itu masih berupa mimpi. Tapi HEY?! Aku meraih mimpiku. πŸ™‚

1 tahun menjadi AUPAIR dan menikmati hidup di Jerman tanpa masalah, kemudian berlanjut dengan bulan-bulan yang penuh perjuangan memperpanjang visa. Dan perjuangan untuk meraih mimpiku selanjutnya. Aku masih punya banyak mimpi yang harus aku wujudkan. πŸ™‚

Dan ternyata hidup selalu memberiku kejutan-kejutan luar biasa, begitu kencang badai yang menerpa namun pelamgi selalu menantiku di penghujung hari.

Beberapa waktu lalu, satu mimpiku kembali terwujud. Mendapat kesempatan untuk berkarya menjadi dosen. Entah dari mana datangnya cita-cita itu. Tapi aku merasa ada panggilan hidup. Aku ingin mengabdi dan aku ingin berbagi. Dan dosen, menjadi hal sempurna untukku. Aku tak pernah bermimpi untuk menjadi kaya dengan rumah mewah dan uang berlimpah. Mimpi-mimpiku hanyalah mimpi-mimpi sederhana agar aku bisa terus belajar, agar aku bisa mengabdi untuk keluargaku dan masyarakat, agar aku diijinkan untuk sekolah lagi di jerman nantinya.

Aku adalah pemimpi, bahkan sampai detik ini dimana banyak dari mimpiku sudah menjadi nyata. Aku adalah pemimpi yang meyakini bahwa sauatu saat semua mimpiku akan menjadi nyata, walau berliku jalanku, walau semua itu butuh waktu. Aku hanyalah pemimpi,yang membiarkan hidup memberikan kejutan untukku. Aku hanyalah pemimpi, yang bangga akan mimpi-mimpiku. Dan aku adalah pemimpi, yang terkejut bahwa mimpiku,kisahku, dan perjuanganku sudah menggugah hati banyak orang, membuka pikiran banyak orang, menginspirasi beberapa orang. Aku merasa aku tak layak menerima itu semua. Karena aku hanyalah seorang pemimpi dan kalianlah…yang membantuku menjadikan mimpi-mimpiku jadi nyata. Terima kasih kuucapkan pada kalian semua… πŸ™‚

 

 

To all my fams and friends…who inspire me to catch my dreams…

 

P.S NEVER STOP DREAMING..1 day it will come true…just remember…1 DAY… πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s